Sejarah Desa

  • Sejarah Desa

 

Tersebutlah pada zaman kerajaan Demak Bintoro berusaha da’wah islam yang di dukung para wali, maka seorang walliyullah Syekh sunan kali jaga (raden Shahid) yng mempunyai banyak murid yang bertitel wali. Beliau menyebarkan murid-muridnya ke segala penjuru tanah jawa.Kemudian salah seorang muridnya yang bernama wali hasan wargo sampailah di hutan, yang setelah selesai di tebang dijadikan desa yang bernama desa Candi.

 

Menurut cerita asal cerita pemberian nama tersebut adalah sebagai berikut :

Ketika mbah wali hasan wargo mendirikan masjid, pada suatu malam, beliau membuat tiangnya yang terbuat dari batu, baru selesai tiga batang dan lantainya dari batu diperkirakan masih cukup.

Dari sungai kitiran batu-batu tersebut di giring menuju lokasi yang akan di dirikan masjid, pada waktu itu sebetulnya masih jam 03:00 malam.

Namun apa yang terjadi pada waktu tersebut ada seorang gadis yang sudah bangun untuk menumbuk padi untuk membuat sarapan, maka beliau terkejut mendengar bunyi lesung ( tempat menumbuk padi) dan mengira beliau sudah kesiangan.

Akhirnya pinggiran batu-batu itu baru sampai di ladang jarakan di hentikan,Dan batu yang untuk tiang baru selesai 3 batang juga di hentikan’ dan orang menyebutnya watu kirang , ( batu kurang) , Artinya untuk tiang masjid masih kurang satu, Sampai sekarang masih ada. Adapun batu tipis yang di sebut orang-orang sebagai batu bata ( watu wata ) Sebagian besar sudah di ambil untuk di jual,karena ada orang yang memesan. Tapi setelah di antar tidak di bayar dengan berbagai alasan,Batu tersebut tidak digunakan setelah bertahun-tahun, akhirnya batu pun hilang satu persatu dengan sendirinya tanpa bekas.

 

Itulah cerita pengambilan pertama, kemudian belum lama ini sekitar tahun 2002 ada pemesanan lagi dari bapak wari, kepala desa wonosegoro kepada pemilik ladang tersebut ( mbok suwuh ) saya dengar tidak di bayar, entah yang sebenarnya, saya kurang tahu.

Kembali ke cerita diatas, kemudian pada waktu 08:00 yang menurut hitungan masih cukup untuk menyelesaikan pembuatan masjid tersebut.

Namun apa boleh dikata, kegiatan telah terhenti, kemudian tanpa sengaja terucaplah kata dari mbh wali kepada gadis yang menumbuk padi itu ”semoga tidak laku kawin ” ( mugo-mugo ora payu laki”) terkabulah kata mbh wali tadi, gadis tersebut sampai meninggal tidak ada yang melamar. Yang kuburannya terpisah dari kuburan umum. Orang-orang menyebutnya kuburan prawan kawak ( kuburan prawan tua ).

Dan beliau berucap pula, mula mula wes nyandi kata nyandi itu di ibaratkan anaman sirih yang daunnya sudah nyandi( sudah tua semua dan tidak ada tunasnya susah berkembang)’

Kemudian kata nyandi tersebut di selaraskan dengan kata candi untuk memudahkan untuk di ucapkan. Jadi untuk desa Candi tersebut tidak seperti dugaan orang-orang dari desa lain, bahwa candi tersebut ada bangunan seperti candi borobudur atau candi prambanan atau lain sebagainya, desa candi tidak ada percandianya , sehingga dari desa lain menanyakan percandianya itu dimana? Para orang alim ( orang pandai jaman dahulu) berkata sebuah nama adalah doa yang kebanyakan menjiwai bagi yang menyandang nama tersebut, sehingga banyak orang candi pada jaman dahulu mengatakan ” nek kepingin sogeh aja dadi wong candi” Wong candi kuwi selagine memet ( nyupang ) ditampa, ora bakalan sugeh sebab wis kegawa arane desane, uripe wong candi ya wes kaya kene rata-rata ora sugeh nemen, wis nyadi , wong candi kuwi yen kepingin cukup pangan lan sandang kudu rosa cakare lrosa dzikire.

Artinya : kalau mau jadi orang kaya jangan jadi orang candi, orang candi sekalipun nyupang diterima tidak mungkin bisa kaya karena sudah terbawa nama desanya,nyadi ,kehidupan orang candi ya begini rata-rata tidak kaya betul dan tidak miskin betul. Orang candi itu kalau mau cukup makan dan pakaian ya harus berkerja dengan keras dan rajin berdzikir.

Ternyata sejak nenek moyang hingga sekarang orang candi baru ada yang dapat naik haji pada tahun 1996, bapak haji yahya namanya , yang nama aslinya bapak dasaan, memang di candi tidak ada orang yang kaya, ada juga yang sampai tidak makan, setiap harinya pun tidak ada, mata pencaharian penduduk candi 99% tani kecil dan buruh tani. Hanya dua PNS asli candi, seorang candi dan seorang penjaga SD Candi dan PNS diluar candi ada Satu Masing-masing dengan nama Mudzakir ( kepala sekolah MI candi ) Rasean ( Penjaga SD candi ) dan Agus ( guru olah raga ).

Masyarakat desa candi selama ini kalau membangun masjid/musolla tidak pernah minta sumbangan desa lain dengan pertimbangan :

  • Hasil pembangunan baik atau tidak adalah usaha masyarakat sendiri.
  • Mengetahui bahwa desa lain juga sedang sibuk membangun.
  • Trauma atas kejadian tahun 1958 Pernah membangun masjid dengan sumbangan meminta ke daerah lain ke kecamatan Blado, di desa bringin tersesat di rumah PKI, kemudian petugas dilaporkan ke pengadilan dan diproses, hampir saja mereka di hukum untung saja Allah masih melindungi melalui NU,Muhamadiyah dan psii pada waktu itu, akhirnya alhamdullilah selamat.

Adapun bangunan besar seperti bendungan dan saluran air, jembatan,pengaspalan jalan, masyarakat masih mengandalkan bantuan pemerintah baik pusat maupun daerah, karena masyarakat candi tidak mampu untuk itu, masyarakat hanya bisa nyumbang tenaga.

Demikian sekaligus legenda Desa Candi yang sempat kami serap dari masyarakat, untuk menjadikan periksa kepada pihak-pihak yang berkepentingan.